Kamis, 09 Agustus 2012

Riana


Hembusan angin menyadarkan lamunan Riana, entah apa yang baru saja ia pikirkan, pandangannya jauh menerawang. Wajahnya sedikit tampak kecewa entah apa yang baru saja terjadi padanya.

Riana menghela napas..
Ia baru saja mengakhiri sebuah pertempuran. Pertempuran hati.
Bagaiamana ia mencoba mematikan sebuah rasa yang seharusnya tidak ada. Bagaimana ia memadamkan rasa.
Layaknya sebuah pertempuran. Kalah dan menang. Dan Riana adalah pihak yang kalah. Yang membuatnya hancur berkeping-keping.

Ini hanyalah sebuah masalah kecil dengan hatinya sendiri. Ini adalah sebuah rasa yang seharusnya membuat seseorang bahagia, seharusnya ini adalah sebuah rasa yang wajar. Tapi tidak untuk Riana. Ini hampir membuatnya Mati Rasa.
Riana.. Riana.. senyum palsu tawa palsu dan rasa sakit yang nyata.


Riana ,menghela napas..lagi
Ia tidak pernah menyangka dengan apa yang akan terjadi. Ia kecewa. Kenapa bukan orang lain saja yang mengalaminya ? Kenapa harus dirinya ?

Riana... Riana.. harusnya ia menyadarinya
Ia memang menyadarinya , akan seperti ini akhirnya.
Kadang Riana berpikir, “dia masih bisa bahagia, sedangkan ia tidak untuk saat ini”
Riana.. Riana..biarkan saja ini terjadi, ini terlanjur terjadi. Sungguh harusnya kau tahu Riana, “dia tidak sebaik yang kau pikir”.

Tapi siapa yang tahu Riana ? Siapa yang tahu bagaimana perasaanya ?
Ia tidak ingin mengulangi hal yang sama.
Riana akan menutup hatinya. Entah untuk siapapun itu.
Riana akan menutup hatinya. Sampai ia merasa baik.

Hanya waktu yang Riana butuhkan, sampai saat yang tepat.

-Riana-

3 komentar:

  1. Mungkin sekarang belum saatnya riana untuk mendapatkan senyum indahnya dari rasa itu.

    BalasHapus